Dalam kegiatan Tama Tami Mengajar, Balai Teknik Air Minum kembali menghadirkan diskusi teknis yang membahas aspek penting dalam perencanaan dan pengelolaan sistem transmisi serta distribusi air minum, yaitu penentuan nilai koefisien friction loss pada pipa (koefisien C). Koefisien friction loss merupakan salah satu parameter yang digunakan untuk menghitung kehilangan energi akibat gesekan aliran air di dalam pipa. Untuk memperoleh nilai koefisien C, langkah awal yang dapat dilakukan adalah mengacu pada tabel koefisien Hazen-Williams. Nilai tersebut ditentukan dengan mencocokkan jenis material pipa yang digunakan dan kondisi kontaknya dengan air berdasarkan referensi yang tersedia pada tabel. Namun, pada pipa yang telah beroperasi dalam jangka waktu lama, kondisi fisik pipa dapat mengalami perubahan akibat korosi, pengendapan, atau faktor lain yang memengaruhi karakteristik aliran. Oleh karena itu, diperlukan verifikasi nilai koefisien C melalui pengujian lapangan menggunakan metode eksperimen. Pengujian dilakukan pada segmen pipa lurus dengan panjang yang telah diketahui dan kondisi aliran yang stabil. Pada tahap ini dilakukan pengukuran panjang pipa, diameter dalam pipa, serta beda tekanan pada kedua ujung segmen pipa yang diuji. Data hasil pengukuran tersebut kemudian digunakan dalam perhitungan menggunakan persamaan Hazen-Williams untuk memperoleh nilai koefisien C yang lebih representatif sesuai kondisi aktual pipa di lapangan. Melalui diskusi teknis ini, peserta memperoleh pemahaman mengenai metode penentuan dan verifikasi nilai koefisien friction loss, sehingga dapat mendukung perencanaan, evaluasi, dan pengoperasian sistem transmisi serta distribusi air minum secara lebih akurat dan efektif.